disiplin anak

PRA-GHINA

Sekitar Tumbuh Kembang dan Belajar Anak Usia Dini

Model Disiplin Dalam Mendidik Anak

 

Menerapkan disiplin anak dalam mendidik anak sangat tergantung kepada hubungan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya. Bila hubungan yang dilakukan orang tua terhadap  anaknya cukup baik maka anak akan memiliki disiplin yang baik. Demikian sebaliknya, bila jalinan hubungan orang tua dengan anaknya kurang baik, anak akan memiliki disiplin yang kurang baik.

Hubungan yang dilakukan setiap orang  tua  dengan anaknya tidaklah sama. Ada orang tua yang lebih banyak mengatur  anaknya. Dalam hal ini, orang tua mempunyai pengaruh atau kontrol yang lebih besar terhadap anaknya. Ada juga orang tua yang memberikan kebebasan sepenuhnya kepada anaknya. Disini anak yang mempunyai pengaruh lebih besar terhadap orang tuannya.

Permasalahannya adalah, bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan anak, sehingga orang tua mampu mendidik anaknya dengan baik? Sejauh mana control atau pengaruh yang harus dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya? Dan apa akibat yang akan diderita anak, bila orang tua tidak bisa menjalin hubungan yang baik dengan anaknya.

Model-model disiplin dalam mendidik anak yang akan diuraikan di bawah ini, akan memberikan jawaban terhadap semua permasalahan di atas.

1.  Disiplin Anak:  Model Serba Membolehkan

Mendidik anak dengan model disiplin anak yang serba membolehkan kepada anak, disebabkan karena orang tua merasa bersalah kepada anak atau merasa tidak enak kepada anak. Perasaan ini mungkin disebabkan karena orang tua tidak bisa memberikan  perhatian kepada anak, karena sibuk dengan pekerjaan diluar rumah. Akhirnya orang tua memberikan kebebasan kepada anaknya untuk melakukan segala hal sebagai bentuk pemberian perhatian kepada anaknya.

Disiplin dengan serba membolehkan  kepada anak ini, mungkin juga disebabkan oleh karena ada ketidak sempurnaan pada anak. Mungkin anak tersebut  bapaknya meninggal dunia, sehingga ibunya membesarkannya hanya sendirian. Disamping itu juga, mungkin terjadi sesuatu yang salah kepada anak sehingga anak dibesarkan secara salah. Orang tua ingin menutupi atau mengganti kesalahannya itu dengan cara serba membolehkan kepada anak.

Perasaan bersalah atau perasaan tidak enak kepada anak ini menyebabkan orang tua tidak memberikan peraturan-peraturan atau batasan-batasan kepada anak, karena dikhawatirkan peraturan-peraturan itu akan memberatkan atau membebani anak, sehingga anak-anak terbebas atau tidak dikenalkan dengan aturan-aturan.

Medidik anak dengan cara serba membolehkan itu tidak baik dan tidak akan berhasil dalam mendidik anak. Anak  yang dibesarkan dengan cara serba membolehkan, cenderung kurang memiliki rasa tanggung jawab, tidak mampu untuk mengontrol emosinya, tidak mampu berkonsentrasi untuk belajar sehingga prestasinya berada dibawah kemampuannya.

Pada perkambangan selanjutnya, anak akan menjadi pengganggu atau pengacau karena tidak mengenal aturan-aturan. Dengan tidak dikenalkan aturan-aturan kepada anak, anak bukan hanya tidak mengenal aturan sehigga tingkah lakunya menyimpang, tetapi juga anak akan merasa tidak dicintai, disayang, atau diperhatikan. Justru aturan-aturan itu adalah bentuk perasaan cinta atau kasih sayang kepada anak. Anak tahu akan hal ini.

Orang tua yang mendidik anaknya dengan cara serba membolehkan, maka pengaruh orang tua berada dibawah anaknya. Dalam hal ini, pengaruh atau kontrol anak lebih besar dibandingkan dengan orang tuannya. Jadi orang tua bisa dengan mudah dikendalikan oleh anaknya. Anak tahu persis, kapan orang tuannya membolehkan, kapan orang tuanya melarang, dan kapan orang tuanya akan marah. Anak juga tahu kalau dia sedang bertingkah laku yang salah, karena dia merasa bahwa itulah cara meminta perhatian dari  orang tuanya.

Orang tua dalam mendidik anak harus memberikan batasan-batasan atau aturan-aturan kepada anak. Orang tua juga khawatir hal ini akan memberatkan anak, karena itu adalah bukti cinta dan kasih saying dan perhatian kepada anak.

Orang tua harus membantu anak untuk tumbuh menjadi kuat, sehingga  anak mempunyai kepercayaan diri dan bisa mengendalikan dirinya. Orang tua harus tahu, bahwa pada dasarnya anak mempunyai keinginan menjadi bagian dan ingin disayang. Orang tua jangan merasa berat untuk mengenalkan aturan-aturan kepada anak.

2.  Disiplin Anak: Model Misskomunikasi (Kesalahan Berkomunikasi)

Mendidik anak dengan cara misskomunikasi (kesalahan berkomunikasi) disebabkan orang tua tidak mau repot-repot berurusan dengan anak. Karena orang tua sibuk bekerja, sehingga orang tua tidak dapat berhubungan dan berkomunikasi yang baik dengan anak. Akhirnya orang tua tidak peduli dengan anaknya, dan anak tidak mendapatkan perhatian.

Mungkin orang tua  mencoba untuk berkomunikasi yang dilakukan dalam situasi yang negatif, sehingga  orang tua tidak bisa berkomunikasi dengan positif bersama anaknya. Komunikasi yang positif adalah, orang tua menyediakan waktu yang cukup untuk berkomunikasi dengan anaknya, komunikasi yang terjadi bersifat timbal balik, saling mendengarkan, dan memberikan tanggapan sehingga keduanya betul-betul terjalin hubungan yang baik, hubungan yang saling menyayangi.

Dalam mendidik anak dengan cara miskomunikasi, ketika anak menginginkan sesuatu, anak memintanya dengan cara marah atau ngambek kepada orang tuanya. Orang tua tidak mau banyak urusan dengan anaknya, akhirnya orang tua memenuhi apa yang diinginkan anaknya. Maka dalam hal ini terjadi misskomunikasi.

Dalam situasi misskomunikasi ini, anak akan tahu seberapa jauh dia bisa mendapatkan perhatian orang tuanya, anak tahu kapan dia menangis, kapan  ia ngambek, atau marah kepada orang tuanya. Dengan demikian anak mempunyai kontrol atau pengaruh lebih besar dari orang tuanya, kaena anak mengetahui situasi dan kondisi.

Dalam komunikasi ini, kadang-kadang orang tua tidak konsisten. Misalnya, orang tua mengatakan ”Bila kamu tidak berhenti menangis, nanti ibu akan pukul !” Anak tidak juga berhenti menangis, tetapi orang tua tidak jua memukul. Disini orang tua tidak konsisten, akhirnya anak mempunyai kontrol yang besar.

Dalam misskomunikasi, jika orang tua tidak mempunyai waktu yang cukup untuk berkomunikasi dengan anaknya. Bila anak melakukan tingkah laku yang menyimpang, seperti; menangis, ngambek atau marah, maka orang tua lebih banyak menggunakan ungkapan-ungkapan:

  • ”Sudah jangan menangis, nanti ibu belikan boneka!”
  • ”Kalau kamu bagus, kamu akan mendapatkan hadiah!”
  • ”Kalau kamu pandai, kamu akan diajak piknik sama ayah!”

Ungkapan-ungkapan itu sama dimaksudkan untuk menghindari permasalahan yang berkepanjangan dengan anaknya. Ungkapan-ungkapan orang tua ini bukan suatu komunikasi yang baik dengan anak-anak.

3.    Disiplin AnakModel disiplin sosial

Mendidik anak dengan cara disiplin sosial ini, anak-anak dikenalkan dengan aturan-aturan. Orang tua memberikan penjelasan kepada anak tentang aturan-aturan dengan alasan-alasannya, sehingga anak-anak benar-benar mengetahui kenapa aturan itu harus dilaksanakan. Dalam menyampaikan aturan-aturan, orang tua melakukan komunikasi timbal balik dengan anak. Orang tua memberikan contoh dan secara konsisten  melaksanakan aturan-aturan yang telah disampaikan  kepada anak, sehingga anak  mengetahui bahwa  orang tuanya juga secara konsisten  melaksanakan  aturan itu. Jika orang tua  menyuruh anak melakukan sesuatu, orang  tua juga  sama-sama  melaksanakannya, sehingga aturan-aturan  itu dilaksanakan  bersama-sama. Jadi dalam model disiplin sosial ini, aturan-aturan  itu dilaksanakan secara konsisten , adil dan bersama-sama antara orang tua dan anak. Pada akhirnya anak mengetahui  bahwa aturan-aturan itu dilaksanakan untuk keamanan dirinya bukan untuk mengekang  kebebasannya atau memaksakan kehendak orang tua.

Dalam model disiplin  sosial ini, pengaruh atau kontrol orang tua dan anak sama besarnya, peran orang tua  dalam hal ini  adalah membimbing anak. Orang tua  mengajak anak  untuk mengontrol dirinya dan orang tua tidak dibenarkan untuk mengontrol  anak-anak, seperti  menyuruh ini, menyuruh itu, harus begini, harus begitu, ini tidak dibenarkan dalam disiplin social. Anak melakukan  segala sesuatu atas dasar keyakinannya sendiri bahwa perilaku itu adalah benar. Jadi disiplin social ini benar-benar muncul dari anak sendiri.

Mendidik anak dengan model disiplin sosial  ini akan menghasilkan anak yang:

  • Mempunyai kontrol diri yang baik.
  • Mempunyai kepercayaan diri.
  • Merasa sangat disayang dan diperhatikan orang tuanya.
  • Membuat anak menjadi kuat dan siap belajar.

Disamping itu pula, disiplin social ini akan memperluas pikiran anak. Karena kalau  anak-anak melakukan kesalahan, anak tidak  akan bisa belajar atau memperluas pikirannya.

Anak akan terus mempertanyakan, apakah dia itu disayang, apakah dia itu diperhatikan atau tidak? Perasaan dalam benak anak ini akan membuat anak tidak bisa berpikir dan tidak bisa belajar. Dalam disiplin sosial ini, orang tua tidak boleh menyalahkan dan menjatuhkan mental anak. Tetapi orang tua harus lebih banyak mempertanyakan kepada anak; kenapa hal itu dilakukan? Apa akibatnya bila hal itu dilakukan? Dengan cara mempertanyakan ini anak diajak untuk berpikir dan mengambil keputusan sendiri dalam memperbaiki tingkah lakunya.

 4.  Disiplin AnakModel Perubahan Tingkah  Laku 

 Model disiplin anak  dengan perubahan tingkah laku ini, tercermin dari banyaknya campur tangan orang tua terhadap anaknya. Orang tua biasanya mengatur anak sampai hal-hal yang terkecil. Segala sesuatu yang diperlukan anak, telah diatur oleh orang tua. Jadi anak secara total dikendalikan oleh orang tuannya sehingga anak tidak mempunyai kesempatan untuk mengontrol dirinya. Biasanya model disiplin ini sering dilaksanakan di rumah sakit atau di lembaga pemasyarakatan yang menangani anak-anak bermasalah.

Dalam model disiplini dengan perubahan tingkah laku ini, kontrol atau pengaruh orang tua lebih  besar dibandingkan dengan anaknya. Anak tidak bisa mengembangkan dirinya. Anak melakukan segala sesuatu bukan atas dorongan diri sendiri, tetapi karena pengaruh dari orang tua. Orang tua biasanya dalam mengarahkan anak dengan cara memberikan imbalan-imbalan. Misalnya : “Bila kamu melakukan ini, kamu akan mendapatkan ini”. “ Bila kamu berhasil melakukan itu, kamu akan memperoleh itu”. Dan sebagainya.

Mungkin anak akan  bersikap sopan dan baik bila menginginkan sesuatu. Atau mungkin akan bersikap sopan bila ada orang tuanya, sedangkan di belakang orang tuannya, sikap anak akan berubah lagi. Ini  merupakan situasi  yang buruk, karena sifat seperti ini sulit  untuk dirubah hingga dewasa. Anak melakukan sesuatu bukan atas dorongannya sendiri tetapi karena ada pamrih tertentu.

 

5.  Disiplin AnakModel Disiplin Ketegasan

Dalam model disiplin dengan ketegasan, semua kontrol datangnya dari orang tua . Orang tua sangat takut kehilangan kontrolnya. Dalam menerapkan model disiplin ini, orang tua  menggunakan kekerasan fisik atau campur tangan secara fisik.

Orang tua memaksakan suatu aturan kepada anaknya, tidak dengan cara memberikan penjelasan dengan alasan-alasan pembenarannya. Maka dalam hal ini, orang tua bisa merubah-rubah aturan setiap hari, sesuai dengan kehendak yang ingin disampaikan orang tua kepada anaknya. Dalam model disiplin ini, anak tidak akan tahu apa-apa. Anak tidak akan mencintai sekolahnya atau keluargannya, malahan akan membangun kebencian, memberontak dan mungkin ketakutan. Situasi seperti ini mengakibatkan anak dalam melakukan segala sesuatu dengan tidak benar.

Tidak selamanya dalam model disiplin dengan ketegasan ini kehendak orang tua yang dipaksakan kepada anak dengan cara kekerasan. Kehendak orang tua yang dipaksakan kepada anak dengan cara haluspun termasuk ketagori disiplin dengan ketegasan ini. Jadi segala bentuk paksaan, baik secara kasar maupun halus termasuk model disiplin ketegasan.

Contoh: Orang tua menyuruh anaknya untuk bersalaman dengan semua gurunya. Bagi anak yang berusia 3-4 tahun, cukup sulit untuk bersalaman kepada semua gurunya. Anak tersebut tidak mau melakukannya. Tetapi orang tua memaksa untuk melakukannya. Dengan rasa terpaksa anak melakukan salaman dengan semua gurunya. Karena terpaksa, maka bersalaman itu dilakukannya secara asal saja, tidak dengan benar. Yang penting orang tuanya tidak banyak ngomel. Memang disini orang tua bermaksud ingin mengajarkan anaknya sopan santun kepada gurunya, tetapi dengan cara  paksaan. Akibatnya tidak baik bagi anak, karena anak melakukannya dengan terpaksa dan bila sudah kesal bisa saja anak itu akan memberontak. Anak melakukan hal itu karena dipaksakan oleh orang tuannya. Padahal dalam memberikan suatu arahan dan bimbingan, tidak dibenarkan dengan cara paksaan, tetapi harus dengan komunikasi yang baik, sehingga anak mengerti betul atas tingkah laku yang harus dilakukannya dan mereka bersedia melakukannya dengan penuh kesadaran. Jadi mengajarkan sopan santun dengan cara paksaan haluspun termasuk dalam model disiplin ketegasan.

Sebenarnya anak mau melakukan hal tersebut. Anak-anak sebenarnya lebih pintar dari orang  dewasa, tetapi orang dewasa selalu menganggap anak-anak tidak tahu apa-apa. Orang dewasa biasanya tidak sabar bila mengharapkan suatu tingkah laku dari anak. Orang dewasa  ingin cepat merubah tingkah laku anak-anak segera baik.

Dalam mengajarkan sopan-santunpun, orang tua tidak dibenarkan melakukan cara-cara paksaan. Tetapi harus dengan cara yang benar dengan alasan yang benar dan dengan pengetahuan yang benar pula. Bila dilakukan dengan cara paksaan, anak melakukan sesuatu tingkah laku tidak atas dasar pengetahuan dan kesadarannya serta anak tidak akan tahu kenapa hal tersebut harus dilakukan. Sehingga disiplin anak yang dimaksud dapat tercapai sesuai harapan.

Comments:
Name
Email
Comment
 
Note : Your email will not be shared or viewed.



Copyright 2011 praghina.com
praghina.com | Privacy Policy And Disclaimer | Contact Us | Sitemap